Jumat, 09 Oktober 2015

Mereka dan Kebahagiaan

Dari Kanan (Delfi, Fika, Kheisya, Widya, Raihan, Fajri, AlJabar)

Sudah hampir setahun, aku menjadi seorang pengajar pada TPA Tgk Dianjong, Peulanggahan. Sebelumnya, sewaktu duduk dibangku SMA aku juga pernah menjadi pengajar pada TPA Al-Ikhlas yang berada tak jauh dari rumah. Jurusan pada perkuliahan yang aku ambil bukanlah sebagai seorang pengajar. Tapi dari duduk dibangku SMA aku senang mengajar. Lebih tepatnya mengajar anak-anak usia dini. Rasanya luas biasa bisa mengajarkan mereka.


Perlahan yang aku dapat dari mengajar tak hanya penambahan uang saku saja, tapi ada sebuah kebahagiaan tersendiri bisa bersama mereka. Meski terkadang tingkah mereka membuat mood ku jadi tidak pas seharian. Tetapi, dibalik itu semua aku sangat menanti datangnya waktu untuk bertemu mereka, aku sangat merindukan mereka dikala libur datang, dan aku begitu bisa tersenyum bahagia saat mereka menyapa, dan mencium tanganku, begitu bahagia ketika mereka memanggilku, terkadang mereka berbagi cerita masalahnya kepadaku.
Meski terkadang mereka penuh ulah anak kecilnya, tapi aku tau mereka takut kehilanganku, mereka takut jika aku tak kunjung datang satu hari saja. Ketika mereka di jemput aku  yang mengatakan “hati-hati ya nak,” tapi ketika aku yang lebih dahulu yang pulang, mereka seperti mengerti. Memberikan perhatian lebih, “hati-hati ya ustadzah,”
Pernah satu waktu aku berfikir, rasanya ingin sekali kembali lagi seumuran mereka. Bisa bercanda dengan teman-teman, bisa berlari dan membuat heboh lingkungan masjid. Rasanya itu biasa aja bagi mereka. Taka da beban, bahkan mungkin hal yang paling berat beban bagi mereka adalah ketika aku memarahi mereka ketika mengaji suaranya begitu kecil, tidak singkron dengan ketika bermain, ketika mereka aku marahi karna tidak dapat membedakan huruf hijaiyah.
Tapi, setelah itu. Aku dan mereka taka da lagi batas, aku sudah mereka anggap seperti ibu mereka. Dan aku menganggap mereka sebagai anak sendiri. Terkadang mereka tidur di pangkuanku, terkadang mereka minta di temenin jika ke toilet, terkadang mereka mengajakku ikut bermain bola mainan bersama. Terkadang mereka juga ikut mengajakku bermain keong bersama.
Aku bahagia punya mereka. Mungkin mereka salah satu kebahagiaan yang Allah beri untukku nikmati. Dan aku bukan hanya mengajarkan, tapi aku juga belajar dari mereka. Belajar menjadi lebih baik dan belajar untuk menjadi seorang ibu untuk suatu saat nanti.
Anakku, Terima Kasih Sayang 

0 komentar:

Posting Komentar