Senin, 29 Juli 2013

Nenek dan Obat Kuat Puasa

Ramadhan kali ini terasa begitu hambar bagi nenekku. Pasalnya ia tak bisa lagi berpuasa seperti Ramadhan sebelum-sebelumnya. Kata Dokter, lambung nenek tak kuat lagi bekerja secara normal seperti biasa. Jadi, untuk menahan makan minum selama lebih kurang dua belas jam sangat tidak memungkinkan.

Meski demikian, dia tetap saja nekat untuk menjalani puasa. Walaupun, nantinya dia tetap saja tak sanggup dan berbuka sebelum waktunya. Nenek selalu saja acuh tak acuh dengan nasehat dokter. Terkadang ia bosan minum obat, dan tak meminum obat sampai-sampai dia masuk rumah sakit. Nenek juga sangat cuek dengan keadaan tubuhnya yang sudah sangat berumur.

Beberapa hari yang lalu, aku dan nenek menunggu waktu berbuka puasa di halaman depan rumah. Kami bergurau sambil bercerita-cerita. Nenek sangat semangat mengomentari satu persatu yang ia lihat. Sesekali timbul tawa diantara kami. Di pertengahan menunggu waktu berbuka. Tiba-tiba datang salah seorang tetangga, yang tak lain juga saudara kami.

Aku biasanya juga memanggilnya dengan sebutan nenek, prihal umurnya yang tak berselisih jauh dari nenekku. Ia duduk diantara kami, tak lama duduk ia mulai mengomentari mengenai keadaan nenek. Katanya, nenek sudah terlihat kurus dari biasanya, nenek juga terlihat sangat pucat. Dia juga tampak kaget ketika nenek mengatakan bahwa dirinya tidak lagi berpuasa, dokter tidak mengizinkannya. Sebab prihal penyakit lambung yang ia derita.

Perempuan tadi, juga bercerita mengenai keadaannya tanpa ditanyakan oleh nenek. Katanya, ia juga demikian dulu, sama dengan nenek. Bahkan ia memiliki penyakit komplikasi, lambung, diabetes dan sebagainya. Tapi, di ujung-ujung pembicaraan ia memberi nenek solusi. Agar nenek cepat sembuh dan bisa berpuasa lagi.

"Saya punya obat, lebih tepatnya bukan obat tapi suplement untuk membantu tubuh agar tetap terjaga dari segala macam penyakit, kalau nenek mau, bisa beli dengan saya. Sudah sangat terbukti, lebih dari satu tahun saya mengkonsumsi suplement ini," ujar wanita separuh baya itu kepada nenek.

Ia meyakinkannya melalui aku, agar aku dapat lebih menguatkan keyakinan nenek untuk mengkonsumsi obat-obatan miliknya yang ia sebut suplement. Awalnya nenek tidak tertarik sama sekali, nenek hanya tersenyum mendengar penjelasan wanita itu. Bahkan ketika wanita itu menerangkan obat yang di bawanya, dengan kegunaan untuk membuang racun ditubuh, nenek membantah berulang kali.

"Apa? untuk menghilangkan racun? enak saja, siapa bilang di tubuh saya ada racunnya? Kalau sudah ada racun, sudah mati saya dari kapan-kapan," nenek menganggap ucapannya sebagai gurau an biasa.

Aku tak berkomentar apa-apa kepada nenek, hingga wanita itu pulang karena waktu berbuka telah tiba. Ternyata, nenek masih terus memikirkan mengenai obat yang ditawarkan wanita tadi. Ia ingin sembuh seperti sebelumnya, agar bisa kembali berpuasa dan kembali sholat tarawih bersama di mesjid bersamaku. 

Tanpa sepengetahuanku, nenek membeli obat itu. Harganya tak ketulungan, hampir setengah dari harga SPP kuliahku. Nenek tak main-main, ia meminum obat yang dibelinya. Ternyata, pembelian obat itu tercium olehku. Aku bertanya kepadanya mengenai obat apa itu. Awalnya nenek hanya bergurau bahwa itu hanya susu biasa, agar tubuh terasa lebih segar.

Namun, akhirnya nenek sendiri yang bercerita. Bahwa ia telah membeli obat yang ditawarkan wanita tua tempo hari kepadanya. Aku hanya diam saja, mendengar pengakuan dari nenek. Aku rasa biarkan nenek mengambil keputusan, namun aku sendiri sangat tidak terima dengan keputusan nenek untuk tetap melanjutkan obat itu.

Pasalnya, nenek memiliki penyakit Jantung. Obat yang diberi dokter merupakan obat khusus untuk penderita jantung. Dan tidak boleh ada pemakaian obat-obat lain diluar obat itu, tanpa ada persetujuan dokter. Karena akibatnya dapat fatal. Aku mengerti niat nenek yang sedari kemarin sangat ingin berpuasa, tapi sudahlah ini sudah takdir. Setidaknya meski ia tak bisa berpuasa lagi, namun ia masih diberikan Allah untuk bertemu lagi di bulan Ramadhan ini. Itu saja sudah cukup bagiku pribadi.

"Nek, gak usah lagi lah minum obat itu. Nenek punya penyakit Jantung. Semua obat yang harus di konsumsi harus atas izin dokter," ujarku kepada nenek.

Akhirnya, nenek mendengar perkataanku dan ia tidak lagi meminum obat itu. Katanya, yang sudah dibeli mubazir jika tidak di minum. Aku pun, mengatakan yang sudah dibeli biarlah konsumsi semau nenek. Karena setelah aku pelajari indikasi obatnya, itu baru tahap suplemen asupan gizi. 

Aku mengerti bagaimana keadaan nenek, apa yang ia rasakan. Aku juga dapat meresapinya, namun apa yang mau di kata. Keadaan nenek sekarang sudah tak layak lagi untuk berpuasa. Meski nenek tidak lagi berpuasa, namun ia sangat rutin bangun ketika sahur dan makan malam ketika aku berbuka puasa.

Tiba-tiba ketika aku berbuka puasa, ia memberi sejumlah uang. Aku kaget, dan bertanya. 

"Untuk apa ini?"

"Ganti rugi obat yang udah nenek pesan kemarin sama nenek dibelakang rumah," ujar nenek kepadaku.

"Lah untuk apa dibayar. Nanti dara yang bilang ke nenek itu. Kalau kita gak beli, buat apa dibayar?"

"Tapi, kemaren itu nenek udah pesan tiga obat lagi. Sekarang batalin aja," ujar nenek.

"Yasudah, walaupun batalin gak usah dibayar. Nanti biar dara bilag. Rugilah kita, masak gak beli, tapi harus bayar uang ganti rugi," lanjutku.

Nenek sangat mudah di pengaruhi, nenek juga sangat mudah di bohongi. Semoga setiap saat aku dapat mendampinginya. Nenek, adalah orang yang akan melakukan segala cara untuk segala hal yang ia mau.[] 

Note : Tulisan ini ikut serta dalam lomba ngeblog FLP-Aceh, dengan tema "Pena Kami Tidak Puasa"

6 komentar:

TEUNGKU HELMI mengatakan...

Seorang Cucu yang begitu sayang sama neneknya, berarti dara harus mengawasi setiap keputusan yang di ambil nenek, keep Spirit..!!

naratif.blogspot.com mengatakan...

luar biasa cucu nenek ya.

Unknown mengatakan...

Ya Allah.. Berikanlah kesehatan untuk neneknya Dara, Ya Allah..

Ferhat Muchtar mengatakan...

selalu seru ikutin cerita Nenek Dara..

Darahersavira mengatakan...

iya,. nenek dara punya keunikan tersendiri. :D
Banyak cerita yang bisa ditulis. hehe,.

Darahersavira mengatakan...

amin ya Allah. Terima kasih Bang Nazri :)

Posting Komentar