Kamis, 23 Mei 2013

Rangkum Kenangan TFT FLP Se-Sumbagut

Keluarga Besar TFT Se sumbagut 2013
Pekan lalu aku berkesempatan mengintip kembali kota Medan. Mengenai kota yang satu ini, sudah sering aku menginjakkan kaki disini. Bulan February lalu, aku juga menghabiskan liburan semester di kota Medan. Kali ini tujuanku ke kota Medan bukan untuk liburan. Hanya saja, mengikuti TFT (Training For Trainer) FLP Se-Sumbagut. Tahun ini, TFT diadakan di kota Medan.


Kota Medan masih sama seperti yang aku kunjungi tiga bulan lalu. Gedung-gedung tinggi yang kokoh berdiri dimana-mana, jalanan macetsetiap saat. Bunyi klakson kendaraan bersahut-sahutan tanpa berhenti sedetikpun. Medan memang benar-benar kota metropolitan di daerah Sumatera. Kali ini, aku harus menghabiskan waktu sepekan dikota ini.

Beberapa minggu sebelum keberangkatan, aku bersama teman-teman FLPku, telah merancang perjalanan ke Medan. Kami berniat perjalanan ke Medan kali ini, bukan hanya sekedar perjalanan mengikuti kegiatan TFT saja. Namun, kami akan mengisi perjalanan kami dengan jalan-jalan ala Backpaker menjelajahi penjuru kota Medan.

"kita nanti ke penangkaran buaya ya" jelas www.ferhatt.com, sesepuh FLP yang ikut perjalanan TFT ke kota Medan.

"Nanti kita kerumah orang china kaya di Medan ya. Tapi, tiket masuknya 35 ribu per orangnya. Terus kita ke gramedia jangan lupa. Terus kita nonton bioskop. Coba Dara search di cinema 21 ada film terbaru apa minggu ini." lanjut bang www.ferhatt.com.

Untuk perencanaan jalan-jalan, bang www.ferhatt.com merupakan pelopor yang sangat semangat, rasanya dalam seminggu di Kota Medan akan habis kami jelajahi semua tempat wisatanya.#oalah. Akhirnya, kami pun sampai di Kota Medan pada Hari Sabtu, 11 Mei 2013. Tetap yang harus diawalkan adalah tujuan awal TFT. Sesampai di Medan kami disambut hangat oleh anggota FLP Sumut yang tak lain adalah merupakan panitia TFT Se-Sumbagut tahun ini.

Anggota TFT lagi didalam angkot

Mereka dapat dengan cepat menghangatkan rasa pertemuan yang erat diantara kami. Meski berbeda daerah, mereka tetap menganggap perbedaan itu adalah warna dari pertemuan TFT kali ini. Tak hanya bertemu dengan anggota FLP Sumut saja, kami juga bertemu dengan anggota FLP dari Riau dan  Padang. Selama TFT berjalan, benar-benar terasa manisnya warna-warni Indonesia. Kaya budaya, bahasa, adat istiadat. Kami saling berbagi. Mereka menceritakan mengenai daerah asal mereka, dan kamipun mulai menceritakan Aceh kepada mereka. Rasanya begitu komplit.

Kenangan TFT tahun ini, terukir dengan sangat baik karena keberagaman dari teman-teman Se-Sumbagut. Aku pribadi sangat bahagia. Rasanya tak ingin berpisah lagi dengan mereka. Sepekan terasa begitu cepat. Dan dalam detik-detik perpisahan pun banyak terukir berbagai janji-janji manis.

“Jangan lupa maen-maen ke Aceh ya. Kami tunggu.” Ujarku ketika salam-salaman perpisahan.

“Kalau nanti ke Riau kabar-kabarin ya. Biar kita jalan-jalan” Lanjut kakak-kakak dari Riau.

“Jangan lupa kirimin alamat rumah akak ya.Biar adoe kirim Boi” Ujarku lagi.

Kebetulan selama seminggu, aku satu kamar dengan orang Riau. Karena dia lebih tua umurnya dariku, jadi kami sepakat untuk bertukar panggilan dengan bahasa daerah. Aku panggilnya dengan sebutan akak dan dia memanggilku dengan sebutan adoe. Mereka sangat antusias dan penasaran sekali tentang Aceh. Sampai-sampai sudah merancang  perjalanan ke Aceh setelah menyelesaikan skripsi dan wisuda mereka nanti. 


Aku dan Kak Hikmah

"kumpulin uang dulu akan, baru akak ke Aceh. Ke tempat Adoe" seru kedua kakak Riau. Kak Hikmah dan kak Resi.
Mereka juga sangat penasaran dengan makanan khas Aceh yang bernama Boi alias bolu ikan. Sampai-sampai ingin sekali memakannya. Akupun memiliki niat, jika ada rezeki nantu tak ada salahnya, kalau aku mengirimkan boi  ke Riau. #eaeaaa..

Lain orang Riau, lain pula orang Padang. Aku juga sekamar dengan orang Padang. Kak Dila namanya. Kakak yang satu ini, semangat untuk mempromosikan negri Minang, Padang tak pernah padam. Ia selalu menceritakan apa-apa saja yang ada di Padang. Dari kebiasaan orang Padang, makanan khas dan tempat wisata disana. Dan yang satu lagi perlu diacungkan jempol buat orang Padang yang satu ini. Kakak ini kalau udah bicara susah berhentinya.#semangat 45 cuy.

Kami juga sempat dibuatnya heran, ia mengaku orang Padang. Namun, tak sedikitpun suka makanan pedas. Bahkan ia menyisakan nasi goreng pagi, yang menurutku rasanya tak sedikitpun pedas. #kalau kami bilang, kak Dila orang Padang gadungan. ckckckckk

TFT Se-Sumbagut tahun ini, benar sangat mengesankan bagi aku pribadi. Meninggalkan kenangan tanpa bekas diingatan dan dihati. Semoga suatu saat nanti kami dapat berjumpa dan berkumpul kembali.[]

2 komentar:

Naqiyyah Syam mengatakan...

keren ya, semoga bisa juga ikutan kumpul2:)

Darahersavira mengatakan...

:) iya, kalau ada kesempatan dan umur. Pasti dipertemukan lagi :D

Posting Komentar