Rabu, 02 September 2015

Bunda dan Separuh Skenario Kehidupan


Ayah dan Bunda
Sungguh terkejut ketika sepulang sekolah kudapati perempuan itu di kamarku. Yang herannya aku, dia menangis tersedu-sedu. Awalnya aku hampir saja marah, karna dia telah begitu berani masuk ke dalam kamarku, duduk di meja belajar bahkan berani membuka buku harian dan album foto almarhumah Mama. Tapi aku urungkan niatku untuk memarahinya, karna ia telah menangis sejadi jadinya.

Ketika melihatku masuk, dia langsung keluar kamar. Pergi ke kamar dia bersama Ayah, dan dengan seketika masuk pesan ke dalam handphoneku.
------  Ra, sabar ya nak. Bunda tau gimana perasaan Dara gak ada lagi Mama, sekarang kan udah ada Bunda disini. Jangan sungkan kalau perlu apa-apa. Anggap aja ini Mama, walaupun di tulisan dara tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan Mama, ------
Untuk kesekian kalinya aku terheran, benar-benar terheran. Jujur saja, saat itu aku belum terlampau mengenalnya. Padahal dia adalah ibu tiri ku, sudah genap dua bulan Ayah menikah dengan perempuan itu. Aku panggil dia Bunda.
Itu sepenggal kejadian sewaktu aku masih duduk di kelas 2 SMA, usiaku saat itu 16 tahun. Mulai sejak itu, aku merasa nyaman. Meskipun kami sama-sama tau kalau kami tidak punya ikatan apa-apa. Tapi, Bunda sudah terlalu bisa membuat aku pribadi merasa nyaman. Kami sering bertukar pendapat, sering bercerita, curhat dari hati ke hati. Bahkan jika satu  sama lain tak suka, kami tidak menampakkannya dengan cara bersikap tak wajar. Paling, hanya diam saja. Atau pergi sebentar untuk menenangkan diri.
Bahkan terkadang Bunda adalah salah seorang yang mampu menyampaikan pesan tersiratku kepada ayah. Awalnya aku berfikir rasa nyaman ini hanya akan bertahan sampai jika Bunda tidak memiliki anak. Dan jika nanti Bunda memiliki anak, dan itu adalah adikku mungkin aku akan di nomer kesekiankan. Atau bahkan aku hanya butiran debu, yang terbang begitu saja tanpa dihiraukan sama sekali.
Ternyata aku salah. Lahirnya adik laki-laki pertamaku, tidak mengurangi rasa perhatian bahkan rasa sayangnya kepadaku. Kami masih sama-sama melakukan yang senang kami lakukan. Makan bakso, menanam bunga, nonton DVD India yang kami putar berulang-ulang, buat kue bawang bersama. Lambat laun rasanya yang sebelumnya tak pernah ada, yang sebelumnya hanya menganggapnya orang lain yang masuk pada kehidupanku. Bahkan pelan-pelan aku menyukainya, aku menyukai masakan ala kadarnya, telur rebus mentah, nasi goreng apa adanya, kuah sop jadi-jadian, ikan goreng gosong. Lama-lama aku suka cara dia yang mendahuluiku, terkadang bersikap seperti sebenar-benarnya Mama yang, memaksaku membuka baju seragam sekolah ketika memilih untuk nonton TV dulu, memaksaku menghabiskan segelas susu walaupun jam sekolah sudah sangat telat, mengucapkan ulang tahun disetiap tahun, berusaha untuk tidak membedakan antara aku dengan anak kandungnya.
Ia dia Bunda, yang dulunya orang asing di kehidupan, yang dulunya aku hanya anggap dia sebatas istri Ayah, dia yang disebut orang-orang adalah ibu tiriku, yang setiap orang pasti menanyakan bagaimana punya ibu tiri seperti dia ?
Dan,
Percayalah aku sayang padanya, aku mencintainya. Kini dia masuk sebagai orang yang sangat kusayang dalam hidup ini setelah Mama dan Ayah. Aku sama sekali tidak menganggap dia sebagai ibu tiri. Dia adalah Bunda.
Begitupun dia, pernah suatu kali kami pergi ke pasar berdua saja. Sesampai di pasar, Bunda pergi ke sebuah toko yang menjual baju seusiaku. Pertama aku tidak menyangka dia akan membelikan aku baju baru, memang ketika itu lebaran tinggal menghitung hari. Si yang punya toko bertanya, untuk siapa bajunya. Dengan begitu jelas dia jawab “Untuk anak gadis saya ini” sambil menunjuk kearahku.
Rasanya, luaaaar biaaaasaaa. Aku saja tidak pernah menyebutkan kata Mama untuknya, padahal anaknya sendiri memanggil Mama. Tapi dia memanggilku anak. Rasanya tidak bisa di lukiskan. Dan dia juga sering menyebutkan aku ketika sedang bercerita pada teman-temannya dengan sebutan “Kakaknya orang nie” maksudnya kakak dari anak-anaknya.
Terima Kasih Ya Allah, telah menitipkan satu lagi perempuan yang membuat aku merasa nyaman.
Terima kasih Bunda J  mungkin ini jalannya agar kita dipertemukan seperti ini. Ini separuh dari skenario, Allah mengambil Mama dan menunjukmu untuk setidaknya mampu membuatku nyaman.


0 komentar:

Posting Komentar