Sabtu, 15 Juni 2013

Bunga Sabun, Kado Terakhir Untuk Mama


Hari ini mama ulang tahun, dan hari ini merupakan ulang tahun mama yang ke sekian kalinya aku tak bisa mengucapkan secara langsung, apalagi untuk bisa merasakan kecupan ucapan terima kasih darinya. Aku juga masih ingat, dengan perjuangan membuat kado untuknya sewaktu SD dulu. Yang ternyata merupakan kado terakhir untuknya yang bisa aku berikan secara langsung.
Ya, ketika itu aku masih duduk dibangku kelas 5 sekolah dasar. Aku sangat galau memikirkan kado apa yang akan aku berikan kepada mama yang ulang tahunnya beberapa hari lagi. Aku melihat teman-temanku ketika itu ada, yang memberikan lukisan wajah mama mereka untuk hadiah, ada juga yang memberikan cincin mainan, bahkan ada yang memberikan sepotong kue ulang tahun yang dibeli di kantin sekolah dulu.

Aku bukan anak yang kreatif, yang bisa membuat lukisan. Di buku kesenian, aku selalu mengambar gunung dan matahari, sawah dan rumput. Aku juga tak punya banyak uang untuk membeli kue ulang tahun, bahkan untuk membeli cincin mainan. Aku hanya punya keinginan. Sebab, ketika aku ulang tahun. Mama tak pernah lupa memberikan kado dan kecupannya.

Aku ingin membalasnya. Sangat ingin. Aku ingin ia merasakan kebahagiaan yang aku rasakan, ketika ia beri kado ulang tahun yang aku inginkan, bahkan sebuah kecupan yang selalu aku tunggu. Aku berfikir keras ketika itu, mencoba membuat list barang yang bisa aku berikan untuk mama. Bahkan aku menulis surat untuk mama, di lembaran kertas surat lumba-lumba penuh warna koleksiku.

Aku juga sempat latihan menulis dulu, mencari tulisan terbaik yang akan aku tulis disana. Aku merangkai dulu kalimat demi kalimat untuk surat itu. Kuberi goresan pensil warna secara perlahan disurat, dengan harap surat itu akan menjadi surat tercantik dan yang pasti membuat mama suka. Akhirnya, dua hari sebelum mama ulang tahun pun tiba. Ketika itu, guru kesenian mengajarkan cara membuat bunga dari sabun.

Bunga sabun dengan campuran tepung terigu. Aku mempraktikkan di kelas. Aku berfikir, aku harus membuat bunga yang bagus, dan akan memberikan kepada mama ketika ia ulang tahun. Bersama dengan surat yang sudah kubuat. Aku pun membuat empat bunga plastik, berwarna merah muda dengan tangkai lidi sapu rumput, yang sebelumnya aku ambil dihalaman rumah. #mama gak tau aku ambil lidi sapu nya. ckck.

Ternyata, keesokkannya buk guru menyuruh kami mengumpulkan hasil kerajinan itu. Aku kuwalahan dengan permintaan itu. Sebab, besok mama ulang tahun. Tapi, bunga nya dikumpul untuk diberi nilai. Aku tak tau harus bagaimana lagi. Kalau aku tak mengumpulkan tugas, aku tak ada nilai untuk mata pelajaran kesenian. Namaku pun di panggil buk guru ke depan untuk mengumpulkan bunga sabun.

Aku pegang erat, botol air mineral yang didalamnya telah ada empat tangkai bunga sabun. Aku berjalan ke meja guru, wajahku mulai cemberut. Aku tak sedikit pun rela bunga ku diambil buk guru. Sangat tidak rela. Aku rela tidak dapat nilai kesenian, untuk dapat membawa pulang bunga itu. Lagi pula, itu bunga aku yang buat. Itu punya ku. Buat apa buk guru memintanya. Bukan kah, bunga itu dilihat saja sudah bisa dinilai ?

"Dara, sini bunga nya untuk ibu," kata buk guru ketika itu.

"Ini punya Dara buk. Dara mau bawa pulang. Boleh ya?" tawarku dengan terus memegang erat bunga sabun.

"Ibu nilai dulu, minggu depan baru ibu kasih balek untuk dibawa pulang ya nak," 

"Tapi, Dara mau bawa pulang hari ini buk,"

"Loh, kenapa ?"

"Mau kasih ke mama. Besok mama ulang tahun buk," ucapku sambil terus memegang erat bunga dibotol plastik. #berharap bunganya gak sumbing.

"Oh, ternyata itu alasannya," buk guru tersenyum melihatku, ia memanggilku untuk mendekatinya. Perlahan aku mendekat.

"Kalau gitu, ibu beri nilai terus ya. Supaya Dara bisa kasih bunga itu untuk mama besok." Ibu guru berkata sambil mengelus rambutku.

Aku tersenyum, ternyata buk guru sangat baik padaku. Ia sangat mengerti keinginanku. Aku sangat bersyukur. Bahkan buk guru memberikan aku nilai 95 untuk bunga sabunku. Itu merupakan nilai kesenian yang paling membuatku bangga. Biasanya, boro-boro dapat 95. Nilai 70 aja buk guru susah kasihnya. Ada pesan dibawah gambar gunungku. "Besok kalau gambar, jangan gunung terus ya Dara. Pemandangan kan gak cuma gunung" Tulisan buk guru pakai tinta merah di bagian tengah pemandangannya lagi.
#benar-benar deh, si dara gak ada seni sikit pun.

Akhirnya, hari ulang tahun mama pun tiba. Hari itu tepat jatuh pada hari Minggu, sekolah libur. Ketika aku bangun tidur, mama sedang membuat sarapan pagi di dapur. Aku datang, sambil membawa bunga sabun dan surat. Sebelumku berikan kepada mama, suratnya aku beri sentuhan parfum kesukaan mama. #ambil di kamar mama.ckckck

"Eh, cepat kali bangun kok dek? hari ini kan libur," kata mama.

"Mama, hari ini ulang tahun ya? selamat ulang tahun ya," ucapku sambil memberi bunga dan surat. Mama mengambilnya dari tanganku. Tersenyum, sambil mencium keningku.

"Makasih ya nak. Wah, ini adek yang buat?" Tanya mama seperti kurang yakin.

"Iya ma, Dara yang buat. Dapat nilai 95 dari buk guru," kataku dengan girang kepadanya.

"Wah, bagus ya. Ini apa?" tanya mama sambil membuka amplop yang berisi surat.

Ia tersenyum membacanya, katanya surat itu isinya bagus. Tulisannya juga cantik, tidak seperti tulisan dicatatan ku seperti biasa. Aku bahagia. Sangat bahagia. Apalagi ketika bunga sabun pemberianku terduduk manis di ruang tamu. Ketika tamu datang, bertanya mengenai bunga. mama selalu menjawab,

"Dara yang buat, hadiah ulang tahun untuk saya," kata mama sambil tersenyum. Aku hanya bisa tersenyum bahagia didalam kamar.

Bunga sabun itu, adalah hadiah terakhir yang aku berikan kepada mama. Tepat pada 16 Juni 2004. Mama pergi tanpa jejak, dan tak akan pernah kembali lagi pada tanggal 26 Desember 2004. Hari ini, tepat tahun ke sembilan kejadian itu. Dimana aku memberikan hadiah terindah sekaligus terakhir untuk mama. Mama, sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa melupakanmu. 

Semua tentang kita, tak akan pernah terlupakan. Meski, seiring waktu semua akan berubah. Aku yang sekarang ini, berdiri tegak, mampu berlari terus menuju pencapaian masa depan, karena kamu. Cintamu tak akan pernah tergantikan di hati ini. Tak akan pernah.
Mama, you are my everything. 

6 komentar:

Isratul Izzah mengatakan...

huhuhu.. dara tulisannya nyentuh bgt. Beneran!
#sabar ya nak, pukpuk.
doa anak shalih yg bs membahagiakan ortu qt di akhirat kelak :')

Unknown mengatakan...

hikx..hikx...hikx...
:'(

Darahersavira mengatakan...

Kak Isra : Alhamdulillah kalau menyentuh :) Amin ya Allah. Semoga bisa ketemu nanti.

Nawra : :D hehe

Syuhada Ahmad mengatakan...

Insha allah.. hanya anak yang sholeh yg slalu mendoakan mamanya, itu yang akan membuat mama senang. sMangat adek...
jadi-lah adek yg membanggakan buat mama... :) kak Syu hanya bisa ikut mendoa. Tanpa adek perlu tau isinya... :) mIss u..

Unknown mengatakan...

tampilan baru blog qe dar ya.
:D

Met ultah ya buat mamak qe dek. :D

Darahersavira mengatakan...

Kak Syu : Makasih kakak. Amin ya Allah

Kak Nurul : Iya kak, mau aktif diblog aku :) iya kak, makasih beuh :D

Posting Komentar