Senin, 01 April 2013

Ayah, Akhirnya Kau Ada

Kakiku terasa begitu lelah, setelah berlari dari jarak yang hampir mencapai dua desa. Aku sangat kelelahan, nafasku terenggap-enggap. Aku masih sangat galau dengan semua ini, sungguh. Ada seorang laki-laki yang mengejarku, sewaktu aku keluar dari pintu sekolah tadi. Aku tak mengenal siapa laki-laki itu. Yang aku tau, sudah beberapa hari ini dia terus mengintaiku. Aku sungguh lelah dengan semua ini. Tampang lelaki itu benar-benar mirip preman di pasar minggu, hampir seluruh wajahnya di penuhi dengan breokan, berpakaian hitam dan selalu bertopi ketika berpaspasan denganku. 

Tak urung selalu saja aku merasa ketakutan, di layar televisi sering memunculkan berita pemerkosaan pada gadis, penculikan dan pengambilan organ-organ tubuh untuk dijual. Apa yang harus ku perbuat agar lelaki itu tak kembali mengejar dan mengintaiku lagi. Oh tuhan, tolong aku. Aku ingin bercerita kepada bunda, namun sayang. Bunda sepertinya sedang banyak fikiran. Hutang dimana-mana. Aku takut, dengan aku menceritakan hal ini akan menjadi beban lagi baginya. Sudahlah, biar aku seorang diri yang akan mengikuti skenario laki-laki brutal itu. Sampai ia berhenti untuk mengejarku.
***
Akhirnya dengan segala upaya, sehingga kaki ku bergetar. Aku sampai di depan rumah. Ketika aku berpaling kebelakang. Tampak, tak ada lagi lelaki berbaju hitam tadi. Kubuka pintu rumah, dengan cepat ku masuk kedalam kamar, ku kunci kamarku. Huft, aku benar-benar lelah. Tak ada nafas lagi rasanya, sudah lupa bagaimana cara bernafas. Sungguh.
“Nina, sudah pulang nak.” Bunda mengetuk pintu kamar dengan keras, aku rasa ia begitu khawatir dengan kepulanganku.
“iya Bunda, Nina udah pulang. Nina ganti baju sekolah dulu ya bunda” jawabku, sambil melepaskan sepatu.
Setelah bergegas mengganti baju, aku pun keluar dari kamar. Menuju kearah dapur dan duduk di atas kursi meja makan, didepanku sudah duduk seorang wanita. Hari ini wajahnya tampak begitu berseri, tak seperti hari biasanya. Ia tersenyum sambil mengupas satupersatu kulit jagung. Menarik rambut-rambut cokelat pada jagung. Lantas ia memberikan jagung yang ia kupas itu untukku.
“ada kabar bahagia nak.” Ujarnya membuka pembicaraan siang ini.
“alhamdulillah, jika itu kabar bahagia. Kalau boleh Nina tau. Kabar apa bunda” tanya ku sambil mengerutkan kening dan tersenyum sambil mengambil jagung dari tangannya.
“bunda diterima kerja, disebuah pabrik roti. Mungkin akan membantu kebutuhan kamu sekolah dan untuk makan sehari-hari” lanjut bunda.
“ohya ? wah, pabrik roti apa itu bunda. Terus pulangnya jam berapa ?”  tanyaku kembali
“nah itu dia nak, yang ingin bunda bicarakan denganmu. Mungkin bunda harus pulang larut malam. Kamu harus sendirian dirumah tak apa-apa ya ?” bunda kembali berbicara, sambil menuangkan air ke cangkir yang berada tepat di hadapanku. Ada rasa cemas di wajahnya.
“Iya bunda, itu tidak menjadi masalah bagiku. Hanya saja, bunda harus tetap menjaga kesehatan bunda.” Disatu sisi fikiran ku terus berkutat mengenai lelaki yang mengejarku siang tadi. Aku rasa, ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada bunda.
“maaf ya nak, jika kamu harus ditinggal seorang diri. Bunda cuma punya kamu seorang, dan bunda harus bekerja untukmu” wajah bunda tertunduk, menatap cangkir. Secara tiba-tiba ia menangis, aku tertegun heran. Berdiri dan melangkah kearahnya, kudekap ia. Berusaha untuk tetap menenangkannya, meski hati ini juga tak dapat menahan jika melihat bunda mengeluarkan air mata.
Akhir-akhir ini, sering kudapati bunda menangis seorang diri di kamarnya. Terkadang ia begitu sensitif, jika aku mengutarakan uang untuk biaya sekolah. Ia juga sangat sensitif jika aku berbicara mengenai sosok ayah ku dimana sekarang. Bahkan ia hanya menjawab “ah, untuk apa membicarakan lelaki itu. Dia saja tak pernah memikirkanmu.”
Aku tertegun jika dia berkata demikian, aku merasa pasti ayah dulunya pernah menyakiti hati bunda. Sehingga bunda begitu benci padanya. Sudah limabelas tahun umurku, tapi tak pernah kulihat bagaimana sosok ayah. Jujur, aku sangat butuh kasih sayang dari sosok ayah. Sangat butuh. Setiap teman-temanku selalu tau identitas ayah mereka. Jika meninggal mereka tau, jika dipenjara mereka tau, dan setiap dari mereka memiliki ayah. Tidak dengan aku.
***
“Nina,. Nina,.. nak. Dimana kamu sayang. Dimana kamu ?” teriak bunda sangat keras siang ini, sehingga menyadarkanku dari tidurku siang ini. Aku memutuskan untuk tidur siang ini sepulang sekolah, agar ketakutanku sedikit berkurang. Jika tidak aku terus berfikir mengenai laki-laki yang suka mengintaiku beberapa hari terakhir ini.
“iya bunda, sebentar.” Aku buka kunci rumah hingga pintu terbuka. Bunda tiba-tiba saja, menarikku kedalam rumah, mengunci pintu kembali. Dan menarik kunci dari pintunya. Dan ia memelukku.
“Dia datang. Tenang saja ya nak, bunda tetap disini, bersamamu. Apapun yang terjadi, tak akan bunda biarkan dia menyakitimu. Seperti dia menyakiti bunda dulu.” Bunda terus memeluk, sambil sesekali menyiumku. Berbicara didepan wajahku. Sungguh, aku tak mengerti apa-apa.
Aku tak mengerti mengenai apa bunda bergurau di siang hari begini. Yang aku tau, dia telah pergi dari rumah sejalan dengan aku berangkat sekolah tadi pagi, dan dia pulang dengan kelakuan seperti ini. Apa yang terjadi padanya. Semoga dia baik-baik saja.
Setelah bunda mulai tenang dengan dibantu secangkir air putih, dia mulai menceritakan sesuatu. Aku terkejut ketika ia bercerita mengenai laki-laki, tak seperti biasanya bunda bercerita mengenai laki-laki. Bahkan ia sangat marah jika aku selalu bercerita mengenai laki-laki.
“Tadi bunda, bertemu laki-laki itu. Laki-laki yang dulu pernah bunda cintai. Dan dia juga lelaki yang telah meninggalkan bunda dan kamu nak.” Ujar bunda sambil terisak.
“maksud bunda ayah, Nina ?” tanyaku yang masih tak mengerti
“iya nak. Ayah kamu. Ketika bunda mengandungmu dulu, dia meninggalkan bunda untuk merantau. Siang dan malam bunda menantinya, apalagi ketika kamu hendak lahir. Namun dia tidak pulang-pulang lagi. Hingga sewaktu umurmu tiga tahun, bunda berjumpa dengannya dan ia bersama seorang wanita dan seorang anak kecil di pelukannya.”
“tadi, bunda bertemu lagi. Dia langsung bertanya mengenai kamu. Katanya, kamu sekarang sudah besar. Mirip sekali dengannya, beberapa kali dia mengikutimu sepulang sekolah. Dan dia sangat ingin melihatmu nak. Tapi bunda tak ingin kamu berjumpa dengan dia.” Lanjut bunda sambil terus terisak. Aku masih sangat binggung. Setelah mendengar cerita bunda, ada satu pertanyaan yang terbersit di hati. Apakah laki-laki yang selalu mengikutiku sepulang sekolah itu adalah sosok ayah kandung ku ?
***
Malam telah tiba, selesai menunaikan sholat isya. Bunda masuk ke kamarnya. Aku tak ingin menganggunya. Ku fikir dia butuh saat-saat sendiri. Yang penting, sekarang aku telah lega. Telah tau semua lika-liku mengenai ayah kandungku.
Jarum jam telah berada di sekitar angka sembilan lewat sedikit, aku telah menyelesaikan tugas matematika untuk ku kumpulkan besok. Ku matikan semua lampu, aku mulai masuk kamar. Belum juga ku rebahkan tubuhku dikasur. Aku mendengar suara pintu depan diketuk. Bergegas aku keluar kamar, ternyata bunda juga mendengarnya. “ Lina, buka pintunya. Aku ingin melihat anakku. Jangan kau sembunyikan. Aku juga punya hak atas dia.” Teriakan itu semakin besar.
Tiba-tiba saja bunda menarikku, membuka pintu kamarku. “Masuk, cepat masuk nak” bunda berkata, sambil terus menarik tanganku. Dan ia menutup pintu kamar. Dari kamar aku mendengar bunda berbicara dengan lelaki yang tak lain adalah ayah kandungku.
“mana anakku ?” tanya lelaki itu. “anakmu ? siapa ? tak akan ku izinkan kau bertemu dengan Nina. Nina itu anakku” jawab bunda, sambil terisak. Aku ingin sekali keluar. Menenangkan bunda, dan melihat ayah. Aku rindu ayah. Sangat merindu. Rindu kasih sayang darinya yang tak pernah kurasa. Aku tak sanggup, ya sangat tak sanggup ingin melihat ayah.
Kubuka pintu, di tengah-tengah perdebatan mereka. Ketika aku muncul di balik pintu, hening seketika. Aku melihat bunda, airmatanya telah habis mungkin. Sisi matanya merah. Tempurung matanya sudah membekang. Lelaki di depan pintu sana, dia masih tercengang melihatku. Airmatanya mulai jatuh, kedua tangannya mulai terbuka. Petanda ingin memelukku. Aku tak kuasa menahannya, ternyata lelaki yang selalu mengikutiku sepulang sekolah adalah ayahku. Aku punya Ayah. Hanya itu yang terbersit didalam ingatanku. Aku berlari memeluknya. Aku menangis, dia juga. Bunda tak dapat menahan kami melepas rindu lagi. Dia juga hanya bisa ikut menangis.
“Maafkan aku Lina, aku telah meninggalkanmu dan buah hati kita selama ini. Sungguh aku masih sangat mencintaimu.” Ucap laki-laki itu melepaskan pelukannya.[]

10 komentar:

Unknown mengatakan...

I was Here. Please Visit mine too. http://ailove-instinct.blogspot.com

Darahersavira mengatakan...

hihihi,..
Tengkyue abang :D okelah saya akan berkunjung kesana sekarang ^^
ayoo tinggalkan jejak di blog saya. "JOIN"

Haya Nufus mengatakan...

Saleum.
Suka nulis cerpen ya? Semangat! :)

Darahersavira mengatakan...

saleum juga, Haya Nufus :) terimakasih udah berkunjung ke blog saya. Sebenarnya, saya baru suka nulis cerpen akhir2 ini saja. Liat aja di blog kebanyakkan tulisan features daripada cerpen. Baru sekitar 1 bulan lebih gabung ke FLP, dan disitulah ada rasa mengebu-gebu untuk menulis cerpen.

Suka nulis juga ya haya ? :) semangatt juga ya,..

Unknown mengatakan...

Like abis dech,,,,

Darahersavira mengatakan...

:) makasih abang udah ngunjung ke blog dara. makasih juga komentnya. :)

Unknown mengatakan...

wah,, saiia juga suka nulis cerpen,, tapi tak tau dech mulainya mana, kemana, dimana dan seterusnya,, heheheehh

Darahersavira mengatakan...

Dara juga baru2 ini semangat nulis cerpen lagi. Hehehee,..
Saran dara, kalau nulis cerpen nulis nya harus pakek hati. Jangan merencanakan ide terlebih dahulu, takutnya nanti jadi gamang cerita nya. Tapi tulis apa yang sedang kita fikirkan. :-) semangatttt,..

isni wardaton mengatakan...

Keyeeeen, Dek ceritanya... :)

Darahersavira mengatakan...

:) makasih kakak.. ini cerpen yang dara kirim ke media. Tapi gak dimuat karena cerpennya terlalu panjang kak. T^T

Posting Komentar