Jumat, 08 Maret 2013

Hadiah Terindah Untuk Sebuah Perjalanan Waktu, Menjadi Seorang Penulis

 “Tringg,..” bunyi beserta lampu merah  muncul dikomputer jinjing yang menandai masuknya email pagi ini. Timbul rasa penasaran dibenakku, mengenai email masuk itu. Namun sayang, ntah mengapa email itu  tak bisa dibuka. Sudah hampir lima belas kali ku tekan tombol sisi kanan mouse yang memberi gerak pada kursor di layar monitor. Tetap saja, hanya satu kata yang sedari tadi muncul lengkap dengan warna merah yang menyala, “Loading”.

Rasa kesal dan penasaran bercampur menjadi satu. Namun, tetap tak ada yang salah. Komputer jinjing yang biasa disebut Labtop ini sudah enam tahun usianya. Jika seorang anak, ia sudah bisa duduk dibangku sekolah dasar. Ayah yang membelikannya, sebagai wujud kado ulang tahun ke 14 dulu.
Hari ini, genap enam tahun sudah umurnya. Ya. Ulang tahun aku dan si labtop ini sama. Yang jatuh pada hari ini. Maklum saja, jika tidak ada sebuah hadiah berbungkus indah lagi tahun ini. Umur ku sudah masuk 19 tahun. Bagi ku, sebuah bingkisan di hari jadi bukanlah hal yang diharapkan. Apalagi dari seorang ayah, semua doa dan kasih sayangnya selama ini saja sudah cukup untuk mewakili bingkisan itu. Bahkan lebih.
***
Prihal labtop yang merupakan hadiah terbaik yang pernah ada ini, sangat berguna bagi masa kejayaan ku dibangku kuliah. Apalagi untuk melahirkan karya-karya yang masih sangat pemula. Ya. Menjadi seorang penulis, merupakan impian yang sudah kutetapkan sejak aku memiliki komputer jinjing ini.
Keyakinan semakin erat ketika komputer jinjing mulai membantu menghasilkan karya. Namun, dorongan dan semangat merupakan motivasi utama untuk terus berlari ke tempat yang dituju. Menjadi seorang penulis. Ketika ayah bertanya suatu waktu. “Apa cita-cita yang ingin kamu raih nak ?” Ayah bertanya, ketika aku dan dia duduk di sebuah warung mie.
“Jadi seorang penulis yah. Untuk berilmu kita butuh membaca, namun jika ingin ilmu lebih dalam lagi, menulis adalah satu-satunya jalan untuk itu.” Tegasku.
Yang aku butuh sekarang, hanyalah dukungan dan teman untuk maju melangkah bersama. Agar semangat tetap terus membara hingga impian menjadi penulis tercapai. Dua pekan yang lalu, aku coba mengirimkan data diri dan mengikuti test pada salah satu komunitas kepenulisan.
Berharap, aku dapat menemukan titik terang disini. Menemukan orang-orang yang memiliki semangat yang sama membaranya denganku. Menjadi seorang penulis. Sehingga, aku dapat terpacu untuk tetap menulis. Apapun itu, semasi bisa bermanfaat bagi orang banyak. Tulislah.
***
Akhirnya, setelah satu jam ku menunggu. Untuk ke enam belas kali ku tekan tombol sisi kanan mouse. Dan tulisan “Loading” hilang seketika. Munculah sebuah pesan singkat yang dibarisi oleh tiga puluh lima nama yang berhasil menaklukan testing menuju suatu impian menjadi Penulis.
“Selamat kepada teman-teman yang lulus OR FLP Aceh 2013”
Kata itu menjadi pembuka. Setelah kata selamat terpapar diatas kepala surat email, ku telusuri 35 nama yang berjajar rapi disana. Tepat pada angka 21 terpapar nama lengkapku. Dara Hersavira. Bibirku yang sedari tadi diam membisu memerhatikan kalimat demi kalimat berjejer di lembaran kertas email itu, spontan terurai ke kanan dan kekiri. Dengan sempurna tersenyum, senada dengan hati yang berkata. “Selamat Dara, ini langkah awalmu menuju impian. Menjadi seorang penulis.”
Selang beberapa menit, ponsel yang sedari tadi duduk bersebelahan dengan labtop pun berdering. Dengan singgap ku lihat pesan singkat yang masuk. Dari seorang kakak yang selalu memberi semangat dibidang kepenulisan. Pesannya berbunyi :
“Selamat ya dek, Lulus di FLP. Sepertinya ini kado terindah hari ini dari Allah.”

0 komentar:

Posting Komentar