Senin, 04 Februari 2013

19 Tahun Yang Ada, Berasal Dari Kasih Sayang 'Chik'



Garis-garis tak beraturan tampak di wajah wanita itu, kulitnya juga sudah sangat usang dan kendur. Matanya sembab, ada sebuah lingkaran di bawah matanya. Badannya juga sudah sangat renta dan bungkuk. Dibalik tubuh yang sudah memiliki umur itu, tersimpan makna kehidupan. Wajar saja, semua kisah telah ia jalankan. Semua Asam manisnya hidup telah dia rasa.
Pendengarannya sudah tak sesempurna dulu lagi, bahkan ketika ia berbicara saja sudah banyak kosa kata yang ia lupa. Sehingga saat berbicara ia lebih banyak terdiam untuk berfikir apa yang hendak ia bicarakan. "Han ku tupu peugah lee (Tidak tau mau bilang apa lagi)" Kalimat itu yang sering ia katakan ketika ia ingin mengatakan sesuatu, namun ia tak tau mau berkata apa.

Wanita paruh baya itu, tak lain adalah nenekku. Di keluarga kami memanggilnya dengan sebutan "Chik", Chik itu bahasa Aceh yang artinya nenek. Semua tentangnya telah terhafal diingatanku, cara dia bertindak untuk suatu permasalahan, cara dia mengutarakan rasa bahagianya ketika ia senang, dan cara dia menjelaskan rasa sedihnya ketika ia bersedih.

Aku juga paham semua masakan yang dibuatnya, semua pakaian yang di cucinya, dan semua gerak-gerik tidurnya. Bahkan aku telah hafal betul bau tubuhnya. Wajar ! Sudah bertahun-tahun aku menemaninya di gubuk kami. Setelah ibu hilang dari kehidupan sepuluh tahun yang lalu. Ketika ayah tak lagi mulai mengenalku. Di sisi itulah hal yang aku pahami adalah seorang wanita itu yang hanya bersedia memberi cinta kepadaku. Setiap saat.

Hingga kini, hanya dia dan tetap dia yang ada untukku. Namun, tubuhnya kini sudah renta. Padahal aku belum juga mendapatkan gelar sarjana, aku berandai dapat membahagiakan ia dengan jerih payahku. Dengan apa yang aku dapat. Aku sadar selama ini aku telah sangat banyak menyusahkan hidupnya, maka dari itu suatu saat ada waktu yang membuat aku dapat membahagiakannya.

Jika berkata mengenai kata-kata, telah abis untaian kata ingin aku utarakan kepadanya. Siapa yang tak suka diperhatikan ? siapa yang tak suka di sayang ? semua makhluk suka hal itu. Aku merasa sangat terharu dengan sikapnya, namun sikap heran terkadang harus ada. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan rasanya. Begitupula chik, terkadang ia mengutarakannya dengan omelan yang bertubi-tubi. Jika aku sedang lelah, jujur aku tak suka di omelin. Namun, ketika sejenak aku berfikir lagi mengenai apa yang ia utarakan. Aku Tersenyum, dan hatiku terbersit kalimat 'itu tanda cinta dia kepada ku'.

kisah lucu juga sering terjadi, bahkan ketika kami sedang bersama. Chik yang sudah banyak merajut kisah di hidup, senang berbagi bersamaku. Ia menceritakan masa penjajahan belanda, Jepang ketika ia masih kecil. Pengetahuan dan pembelajaran banyak aku dapatkan darinya, bahkan berbagai nasehat-nasehat yang dapat memperkokoh jalan kehidupan.

 Biarlah Tuhan memberikan cobaan, karena dengan itu ia akan menyayangi kita. Jangan takut kehidupan akan mati dengan cobaan. Karena Ia juga yang memberikan solusi permasalahan yang ada, jika kita terus berusaha dan terus memohon kepadanya. Itu kalimat yang di sampaikan Chik ketika aku sedang menangisi kerinduan pada ibu.

Tuhan, aku mohon jaga ia seperti ia menjagaku. Kasihani ia seperti ia mengasihaniku. Selalu berikan ia yang terbaik, seperti ia yang selalu memberikanku yang terbaik. Terima kasih untuk semuanya chik. Untuk tumpangan pundakmu ketika kau bersedih, untuk usapan jari-jari hangatmu di setiap jatuhnya airmata di pipi. Untuk ratusan nasehatmu, yang kini masih tersirat di ingatan serta hatiku. Terimakasih atas ketabahanmu, kesabaranmu, bahkan semua jerih payahmu dalam mendidikku. Hingga aku berusia 19 tahun kini.

Ini semua karena mu. Dan ini semua untukmu. Hanya untukmu.[]



0 komentar:

Posting Komentar