Rabu, 14 November 2012

Kisah Penjual Mangga yang Tuna Netra




Perjalanan kali ini ditempuh dengan jarak 25 Kilometer dari ibu kota Banda Aceh, desa ini terbilang jauh dari keramaian ibu kota, namun sangat menjanjikan bagi para penikmat pantai. Perjalanan di lengkapi oleh pemandangan indah nan asri. Perpohonan rindang dan lebat berkumpul di sepanjang jalan, memasuki kilometer 20 terlihat pinggiran pantai luas yang berukuran sangat pendek dari badan jalan. Itu adalah pantai Ujong batee tepat disebelah timur Kota Banda Aceh. Lima kilometer lagi terdapat sebuah desa yang bernama Ruyong, kecamatan Mesjid raya, dusun Pinto gerbang. Tiga kilometer lagi memasuki desa krueng raya, Aceh Besar.
Memasuki tepi jalan Laksamana hayati, terdapat sebuah rumah panggung berukuran 5X7 tepat di sisi kiri jalan. Rumah yang hanya berdinding kayu ini adalah milik keluarga Zainuddin. Lelaki separuh baya ini adalah seorang penjual buah-buahan yang berlapak di pinggir jalan Universitas syiah kuala, tepatnya berada di koridor jalan fakultas Ekonomi. Kesungguhannya dalam mengadu nasib untuk hidup sangat bisa di acungkan jempol.

Zainuddin hanyalah seorang lelaki yang hanya mengandalakan mata hati dan daya ingatnya  untuk melihat dan mencari nafkah, pasalnya sepasang matanya tak bisa melihat lagi sejak usianya memasuki tiga tahun. Zainuddin terbilang memiliki semangat dan sangat santai dalam menjalani hidup, bahkan ia tak pernah mau ambil pusing tentang mereka yang bersikap tidak kemanusiaan terhadapnya.

Berjualan mangga sudah ia lakoni pasca Aceh tergulung oleh gelombang hitam, 26 Desember 2004 lalu. Sebelum berjualan mangga ia sudah memiliki berbagai pengalaman dalam prihal berjualan, salah satunya berjualan udang dan tiram. Keterbatasannya yang tak dapat melihat mengharuskannya untuk tidak berprofesi lebih dari hal jual beli, bahkan udang atau mangga yang akan ia jual beli kan adalah hasil dari ia beli dari orang lain yang memiliki pohon atau tambak udang.

Ia memilih berjualan mangga di Unsyiah pasca tsunami di karenakan, waktu yang memungkinkan berjualan hingga matahari terbenam. Sedangkan pengalamannya berjualan udang dan tiram, waktu ramainya pembeli hanya sampai pukul 12 siang saja.

“Susah sekali dengan segala keterbatasan, tetapi saya tidak boleh menggeluh. Jadi saya memilih berjualan mangga di Unsyiah, mahasiswa kan baru selesai kuliah hingga pukul 6 sore. Sedangkan jika pengalaman saya dulu berjualan udang di peunayong hanya sampai pukul 12 Siang pembeli tak ada lagi.” Ujar Lelaki berkelahiran Meulaboh, 07 November 1963 ini.

Semangatnya tak pernah runtuh, Zainuddin harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk sampai ke lapaknya berjualan. Ia harus merogoh kantong Rp 40 Ribu perharinya untuk ongkos naik angkutan umum labi-labi dari rumah ke Unsyiah, ia berjualan di temani oleh ke dua putranya yang kini berusia 9 dan 4 tahun.
Pengeluaran yang dikeluarkannya terkadang tidak membuahkan hasil, jika cuaca mendukung penjualannya akan habis. Terkadang tinggal untuk besoknya lagi, namun karena yang di perjual belikan hanya buah-buahan seperti Mangga dan sirsak akan mengalami kematangan dan lembab. Di situlah kerugian yang akan timbul dari dagangannya.
Menjual mangga pun tak selamanya berbuah manis, terkadang jika tak ada musim ia tak berjualan. Dan jika bermusimpun mesti ada orang yang memanjat pohon untuk mengumpulkan mangganya.
“Harus mencapai 100 hingga 200 Kilogram mangga yang akan kita ambil. Jika tidak orang yang manjatnya tidak mau naik ke atas pohon. Wajar untuk 10 kg mangga di hargai Rp 10 ribu. Mereka kan juga mencari rezeki.” Ujar Suami dari Mariani.
Penglihatan tidaklah penting bagi lelaki separuh baya ini, ia tak pernah mengeluh dengan matanya yang tak dapat melihat. Untuk berjualan dan melakukan aktivitas lainnya sudah terhafal penuh di memori ingatannya, sehingga semuanya dapat ia lakoni seperti layaknya orang biasa.
 Matanya tak dapat melihat akibat kecelakaan yang terjadi ketika ia berumur 3 tahun, kecelakaan itu tak hanya menimpanya tetapi juga ke tiga saudara kandungnya. Hanya satu kakaknya yang dapat tertolong.
“Kata ibu saya ini karena meurampot di hutan ketika saya bermain bersama saudara-saudara saya. Ibu saya yang waktu itu masih sangat muda, tak mengerti dengan hal semacam itu dan membawa kami ke rumah sakit. Sedangkan kakak saya yang satunya lagi hanya di bawa ke tukang rajah. Namun dia lah yang berhasil melihat kembali, kami yang lainnya seperti ini hingga sekarang.” Kenang ayah dari Rahmat dan Mukhlis ini.
Kini dengan segala keterbatasan ia hanya ingin hidup keluarga dan pendidikan anak-anaknya dapat berjalan seiring waktu. Tak pernah berfikir hidup untuk yang berlebihan “Untuk ada isi perut saja sudah cukup” itu kata-kata yang ia ulang sebanyak 3 kali.
Namun layaknya setiap ayah dan setiap kepala keluarga, Zainuddin pun memiliki harapan yang penuh untuk putra-putranya. Bahkan ia berharap agar putra-putranya kelak tidak hidup sama seperti dirinya, paling tidak dapat sedikit lebih berdaya untuk mencari isi perut. Ia pun sangat menekankan pendidikan yang penuh bagi putra pertamanya Rahmat yang kini baru duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, ia mengajarkan rahmat untuk dapat mandiri.
“Selalu saya bawa anak-anak untuk ikut berjualan bersama saya, agar mereka tidak banyak bermain di kampung. Tetapi belajar untuk hidup mandiri, terkadang mereka sudah mulai berkomunikasi dengan pembeli.” Lanjut Zainuddin.
Dana juga sangat terkendala bagi pengobatan matanya, siapa yang tak mau melihat ? itu kalimat yang ia lontarkan, layanan masyarakat Aceh seperti JKA tak dapat membantunya untuk melihat kembali. Ia sudah pernah pergi ke rumah sakit, namun pihak rumah sakit hanya menyarankan ia melakukan pengobatan mata di luar negri. Dokter mata saja juga sudah memprediksikannya untuk kemungkinan mata yang dapat di operasi hanya sebelah kanan saja, itu juga jika ada pendonor mata.
Hal lain yang menjadi targetnya adalah membuka sebuah tempat jahit di daerah jalan lingkar kampus Unsyiah, Darussalam. Kini untuk sebuah permulaan ia sedang menyediakan tahap pembuatan ruko kecil berukuran 7 X 6 yang ia kumpulkan dananya dari hasil penjualan mangga.
“Sekarang saya sedang mempersiapkan perubahan, jika hujan datang tak perlu susah-susah lari mencari tempat persinggahan sudah ada ruko sendiri, meski pun kecil itu punya sendiri.” Tutur Zainuddin.
Meski semuanya keterbatasan, tetapi ia tak pernah memaksakan diri untuk meminta-minta atau mengemis di jalanan. Ia memiliki prinsip semua orang memiliki jalan rezeki masing-masing yang telah di sediakan oleh Allah. Kini kita hanya perlu berusaha.
“Kunci rezeki adalah Kesehatan. Kesehatan itu sangatlah penting.” Ujar Zainuddin mengakhiri pembicaraan.

0 komentar:

Posting Komentar